Edukasi Kesehatan tentang Waspada Terkena Virus “Rabies” di Radio Maria Indonesia
Abstract
Penyakit rabies merupakan penyakit yang ditularkan oleh virus dari genus lyssa dimana penularannya di transmisikan lewat gigitan binatang yang sakit terkhususnya oleh anjing gila. Rabies berdampak buruk kepada manusia apabila sudah mengenai sistem saraf pusat. Upaya yang dilakukan untuk mengurangi angka kejadia rabies dengan memberikan vaksin kepada binatang peliharaan. Tujuan pengabdian ini menyebarkan informasi kepada seluruh pendengar radio maria Indonesia tentang virus rabies dan bagaimana cara mengatasi pada saat terkena virus rabies. Kegiatan ini dilakukan di Radio Maria Indonesia. Metode pengabdian yang dilakukan dengan diskusi interatif melalui telepon atau mengirim pesan di whatshapp radio maria Indonesia (Telepon: 061-4151016, SMS : 0812 6060 0191 dan live streaming; www.radiomaria.co.id). Sasaran utama dalam kegiatan ini adalah seluruh pendengar radio maria Indonesia. Hasil yang diperoleh sebanyak 5 orang bertanya melalui telepon dan 15 orang bertanya melalui SMS tentang bagaimana cara pencegahan rabies. Terdapat tiga point penting dalam upaya pencegahan rabies pada anjing yaitu membersihkan luka dengan air mengalir jika terkena gigitan anjing selama 10-15 menit; anjing yang menggigit harus dilakukan pengurungan dalam kandang selama dua minggu karena anjing yang terkena rabies akan mati dalam 10 hari; dan melakukan program vaksinasi terhadap anjing peliharaan setiap tahun. Edukasi dalam upaya pencegahan virus rabies ini dapat menambah informasi maupun pengetahuan bagi masyarakat secara umum.
References
Ayu Ria Widiani, G., & Mahardika Yasa, I. M. (2022). Laporan Kasus: Seorang Penderita dengan Kecurigaan Rabies. Jurnal Ilmiah Kedokteran Dan Kesehatan, 1(3), 82–88. https://doi.org/10.55606/klinik.v1i3.628
Kementerian Kesehatan. (2016). Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Kasus Gihitan Hewan Penular Rabies di Indonesia. https://ayosehat.kemkes.go.id/media-buku-saku-rabies--petunjuk-teknis-penatalaksanaan-kasus-gihitan-hewan-penular-rabies-di-indonesia
Kementerian Pertanian. (2019). Masterplan Nasional Pemberantasan Rabies di Indonesia. Direktorat Jendral Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian. 1–100. http://keswan.ditjenpkh.pertanian.go.id/?p=2681
Pande Ayu Naya Kasih Permatananda, Putu Nita Cahyawati, Anak Agung Sri Agung Aryastuti, & Asri Lestarini. (2022). Upaya Pencegahan Rabies di Desa Taman, Bali. ABDISOSHUM: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sosial Dan Humaniora, 1(3), 357–363. https://doi.org/10.55123/abdisoshum.v1i3.985
Rasa, F. S. T. (2019). Buku Saku Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies di Indonesia. Laboratorium Penelitian dan Pengembangan FARMAKA TROPIS Fakultas Farmasi Universitas Mualawarman, Samarinda, Kalimantan Timur. 83.
Satia. (2019). No TiDinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut Kekurangan Vaksin Rabies, Minta 50 Ribu Terealisasi [Internet]. Tribun Medan. https://medan.tribunnews.com/2019/03/29/dinas-ketahanan-pangan-dan-peternakan-sumut-kekurangan-vaksin-rabies-minta-50-ribu-terealisasi-1000
Sedang, D. (2017). Mendukung Percepatan Program Bali Bebas Rabies Di Desa. 16(September), 205–211.
Sindawati, K. A., Puja, I. K., & Dharmawan, I. N. S. (2021). Peran Manajemen Populasi Anjing dalam Pemberantasan Rabies: Studi Kasus di Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali. Buletin Veteriner Udayana, 21, 125. https://doi.org/10.24843/bulvet.2021.v13.i02.p03
Sumerti, N. L. P. (2018). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Tingginya Pemakaian Vaksin Anti Rabies (VAR) pada Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies di Kabupaten Karangasem. Repository Itekes Bali.
Sumut, D. (2019). Provinsi Sumatera Utara. Pendidikan …, 6, 99. https://jdih.kemenkeu.go.id/fullText/2014/2TAHUN2014PERPRESLamp.pdf
Wijaya, R., Kurniawan, R. N., & Wijaya Ivan. (2022). Faktor Predisposisi Pencegahan Penyakit Rabies Di Wilayah Kerja Puskesmas Donggo Kabupaten Bima. Jurnal Promotif Preventif Unpacti, 5(1), 32–37. http://journal.unpacti.ac.id/index.php/JPP.



