Pelatihan Cultural Skills untuk Pembimbing Sebaya Madrasah Aliyah Perguruan Mu’alimat Qur’ani
Abstract
Remaja merupakan masa yang usia 4-17 tahun rentan akan perubahan pada tahap peralihan, meningkatnya masalah. Hal ini dipicu oleh beberapa tuntutan yang harus dilaksanakan individu seperti salah satunya meninggalkan reaksi dan penyesuaian siakp/ perilaku yang kekanak-kanakan dan emngemabngkan komunikasi interpersonal. Dalam hal ini peneliti menemukan masalah di Madrasah Aliyah Perguruan Mu’alimat Qur’ani, dimana terjadinya rendahnya komunikasi yang salah satu pemicu yaitu konteks budaya. Banyaknya santri dari budaya berbeda yang berkumoul menjadi satu, yang menyebabkan penolakan terhadap budaya tertentu. Peneliti bertugas untuk meningkatkan keterampilan berbudaya dimana latihan ini meliputi pengetahuan dan praktek. Pelatihan dilakukan oleh 20 orang Santri MAP Mu’alimat Qur’ani. Dengan hasil 96,67 % mendapatkan manfaat dari sesi keterampilan berbudaya.
References
Ashari, M. K. (2018). Kompetensi guru pesantren dalam meningkatkan kecerdasan sosial santri: studi multi kasus di pondok pesantren Roudlotul Qur’an dan pondok pesantren Fathul Hidayah Lamongan. UIN Sunan Ampel Surabaya.
Bruinessen, M. van. (1995). Kitab kuning, pesantren dan tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia. Bandung: Mizan, 17.
Chourou, L. (2020). Does religiosity matter to value relevance? Evidence from US banking firms. Journal of Business Ethics, 162(3), 675–697.
Efendi, M. H., Irawati, M. H., Rochman, F., & Gofur, A. (2017). Environmental Conservation Education by Applying Islamic Values. Journal of Education & Social Policy, 4(2), 180–186.
Fuadi, A. (2016). Konseling Psikoanalisis. Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien.
Gebauer, J. E., Sedikides, C., Schönbrodt, F. D., Bleidorn, W., Rentfrow, P. J., Potter, J., & Gosling, S. D. (2017). The religiosity as social value hypothesis: A multi-method replication and extension across 65 countries and three levels of spatial aggregation. Journal of Personality and Social Psychology, 113(3), e18.
Heyeres, M., McCalman, J., Langham, E., Bainbridge, R., Redman-MacLaren, M., Britton, A., Rutherford, K., & Tsey, K. (2019). Strengthening the capacity of education staff to support the wellbeing of Indigenous students in boarding schools: A participatory action research study. The Australian Journal of Indigenous Education, 48(1), 79–92.
Hurlock, E. B. (1953). Developmental psychology.
Jalaluddin, H. (2002). Psikologi agama. Divisi Buku Perguruan Tinggi, PT RajaGrafindo Persada.
Lukens‐Bull, R. A. (2001). Two sides of the same coin: Modernity and tradition in Islamic education in Indonesia. Anthropology & Education Quarterly, 32(3), 350–372.
Ma’rufah, S., Matulessy, A., & Noviekayati, I. (2014). Persepsi terhadap kepemimpinan kiai, konformitas dan kepatuhan santri terhadap peraturan pesantren. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia, 3(02).
Muhith, A. (2018). Quality culture of islamic boarding school. International Journal of Research-Granthaalayah, 6(10), 25–37.
Southern, S., Gomez, J., Smith, R. L., & Devlin, J. M. (2010). The transformation of community counseling for 2015 and beyond. Vistas,(2010), 1–12.
Subekti, M. Y. A. (2018). Pendidikan Karakter di Pondok Pesantren Anak-Anak. TaLimuna: Jurnal Pendidikan Islam, 4(1), 55–72.
Umami, S. R., & Amrulloh, A. (2017). Internalisasi Nilai-Nilai Pedidikan Akhlak Santri Putri Asrama X Hurun Inn Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Jombang. Jurnal Pendidikan Islam, 1(1), 112–129.
Villani, D., Sorgente, A., Iannello, P., & Antonietti, A. (2019). The role of spirituality and religiosity in subjective well-being of individuals with different religious status. Frontiers in Psychology, 10, 1525.



