Hubungan Amenorhea Sekunder dengan Tingkat Kecemasan Akseptor KB Suntik DMPA

  • Vivi Dwi Putri Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Abdurahman Palembang
  • Rani Purwani Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Abdurahman Palembang
  • Adhika Wijayanti Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Abdurahman Palembang
Keywords: amenorhea sekunder, akseptor KB suntik DMPA, tingkat kecemasan

Abstract

Amenorhea Sekunder merupakan efek samping pemakaian KB Suntik DMPA yang dapat menyebabkan kecemasan pada sebagian besar akseptor, karena akseptor KB menggangap bahwa amenorhea sekunder adalah gejala kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan amenorhea sekunder dengan tingkat kecemasan akseptor KB Suntik DMPA di BPM Sagita palembang 2021. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian survey kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini Adalah 52 akseptor, teknik pengambilan sampel secara Total Sampling. Pada penelitian penulis menggunakan instrument penelitian kuisioner yang berisi 14 pertanyaan.dan disajikan dalam bentuk tabel serta dilakukan uji statistik Chi-square menggunakan Statistic Program Social Science (SPSS). Dari hasil Uji Statistic Chi-Square antara Amenorhea Sekunder dengan tingkat kecemasan akseptor KB Suntik DMPA diperoleh nilai p = 0,020 dengan nilai p < (α = 0.05), maka dengan demikian dapat disimpulkan ada hubungan amenorhea sekunder dengan tingkat kecemasan. Untuk mengurangi atau menurunkan Kecemasan pada Akseptor salah satu alternatif dengan cara memberikan konseling.

References

Amenorrea, H., Dengan, S., Pada, K., Kb, A., Dmpa, S., Klinik, D. I., Husada, D., Malang, P. K., & Fauzia, P. A. (2019). Karya tulis ilmiah.

BKKBN. (2017). Buku Pelayanan Kontrasepsi program Kependudukan, keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga BKKBN.

BKKBN. (2017b). informasi pelayanan kontrasepsi.

bkkbn sumsel 2019, B. P. sumatera. (2019). Jumlah Pasangan Usia Subur dan Peserta KB Aktif di Provinsi sumsel. 2019.

Chandranita. (2009). fisiologi Aminorhea.

Cunningham. (2006). keluarga berencana.

Dinas Kesehatan Provinsi Palembang. (2018). Profil Kesehatan Tahun 2018 (Data 2017). Dinas Kesehatan Jayapura, 72, 10–13.

Dinkes. (2019). Profil Kesehatan DINKES Provinsi SUMSEL. Dinkes Sumatera Selatan, 100.

Hartanto, H. (2004). Keluarga Berencana dan Kontrasepsi.

Hawari,Dadang.2011.Manajemen Stres Cemas Dan Depresi.Jakarta:FKUI.

Indah. (2016). Kontrasepsi, imformasi pelayanan.

Jitowiyono, sugeng. (2019). Keluarga Berencana (Kb) Dalam Perspektif Bidan. In Keluarga Berencana (Kb) Dalam Perspektif Bidan.

Kemenkes RI. (2019). Profil Kesehatan Indonesia 2018 [Indonesia Health Profile 2018]. http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatan-indonesia/Data-dan-Informasi_Profil-Kesehatan-Indonesia-2018.pdf

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Profil Kesehatan Indonesia 2016. In Profil Kesehatan indonesia. http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatan-indonesia/Profil-Kesehatan-Indonesia-2016.pdf

Kementrian Kesehatan RI. (2014). pedoman manajemen pelayanan keluarga berencana.

Lucky, TK, dkk. (2013). buku ajar kependudukan pelayanan KB.

Prawidharjo. (2008). manajemen kesehatan menstruasi.

Saifudin, A. B. (2010). buku panduan praktis pelayanan kontrasepsi.

Sugiyono. (2018). metode penelitian kuantatif dan R dan D.

Suparman. (2017). manajemen kesehatan menstruasi.

Sutejo. (2018). keperawatan jiwa , konsep dan praktik asuhan keperawatan kesehatan jiwa : gangguan jiwa dan psikososial.

Stuart, Gail W.2007. Buku Saku Keperawatan Kesehatan Jiwa.Jakarta :EGC

Varney. (2006). Buku Ajar Asuhan Kebidanan edisi 4.jakarta:EGC.

Published
2024-04-30
How to Cite
Putri, V. D., Purwani, R., & Wijayanti, A. (2024). Hubungan Amenorhea Sekunder dengan Tingkat Kecemasan Akseptor KB Suntik DMPA. Journal of Language and Health, 5(1), 267-272. https://doi.org/10.37287/jlh.v5i1.3443