Penatalaksanaan Holistik pada Anak Perempuan Usia Lima Tahun dengan Tinea Capitis Tipe Kerion melalui Pendekatan Kedokteran Keluarga
Abstract
Dermatofitosis atau jamur pada kulit infeksi jamur superfisial yang disebabkan oleh Trichophyton sp., Epidermophyton sp., dan Microsporum sp (jenis jamur dermatofita). Tinea capitis adalah infeksi jamur yang menyerang area kulit kepala dan rambut. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan pendekatan dokter keluarga yang holistik dan komprehensif sesuai masalah yang ditemukan pada pasien, dan melakukan penatalaksanaan berbasis Evidence Based Medicine yang bersifat patient centered, dan family approach. Studi ini merupakan studi laporan kasus. Data primer diperoleh melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan kunjungan ke rumah untuk melengkapi data keluarga dan menilai lingkungan fisik. Penilaian dilakukan berdasarkan diagnosis holistik dari awal, proses, dan akhir studi. Pasien An.AKS usia lima tahun datang ke poli umum Puskesmas X di antar oleh ibunya dengan keluhan timbul benjolan di kepala sebesar koin lima ratus rupiah sejak lima hari yang lalu, disertai nyeri, gatal, terdapat kebotakan di area benjolan dan terdapat bintil-bintil kecil sebesar kepala jarum pentul. Pasien didiagnosa dengan tinea capitis dengan jenis kerion. Pasien diberikan intervensi farmakologi dan non farmakologi berupa pengetahuan dan pengobatan tinea kapitis yang juga diberikan pada keluarga.
References
Achterman et al. (2012). Dermatophyte Virulance Factors: Identifying and Analyzing Genes That May Contribute to Chroniic or Acute Skin Infection. Int J Microbiol. 2012: 1-8
Adiguna MS. (2013). Tinea Kapitis Dalam: Dermatomikosisi Superfisialis. Jakarta: Balai Penerbit FK-UI
Ahmad et al. (2023). Tinea Capitis. [diakses pada 2 desember 2023]: http://ncbi.nl.nih.gov
Calender et al. (2021). Tinea Capitis Caused by Microsporum audouinii: Lesson from a Swedish Community Outbreak. Advances in Dermatology and Venerology. 2021(101): 1-3
Chodkiewicz et al. (2018). Tinea Capitis Maquerading as Basal Cell Carcinoma. Skinned. 16(4): 269-271
Hanselmayer et al. (2007). Epidemilogy of Tinea Capitis in Europe: Current State and Changing Patterns. Mycoses. 50(2): 6-13
Ilhan et al. (2016). Detection of Seasonal Asymptomatic Dermatophytes in Van Cats. Braz J Microbiol. 47(1): 225-30
Kassem et al. (2021). Tinea Capitis in an Immigrant Pediatric Community; a Clinical Signs-Based Treatment Approach. BMC Pediatrics. 21(363): 1-8
Moriello et al. (2017). Diagnosis and Treatment of Dermatophytosis in Dogs and Cats: Clinical Consensus Guidline of the World Association for Veterinary Dermatology.Vet Dermatol. 28(3): 266-e68
Paller et al. (2011). Disorders Due to Fungi in: Hurwits Clinical Pediatric Dermatology. New York: Elsevier
Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Inonesia (PERDOSKI). (2017). Panduan Praktik Klinik Bagi Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin di Indonesia. Jakarta : PERDOSKI
Rahmayanti, ND., Sawitri. (2018). Tinea Capitis in Adolescent: A Case Report. Periodical of Dermatology and Venereology. 30(1): 88-94
Sari,NPARY., Rusyati LMM. (2023). Profil Pasien Tinea Kapitis di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP PROF. Dr. I.G.N Ngoerah Denpasar Periode 2014-2019: Sebuah Studi Potong Lintang Retrospektif. Intisari Sains Medis. 14(2): 2089-9084
Schieke et al. (2013). A Superficial FUNGAL Infection in: Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine 8th Ed. New York: MC-Graw-Hill
Siregar, N., Pertiwi, FD. (2021). Profil Tinea Kapitis di Poli Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Deli Serdang Lubuk Pakam pada Tahun 2014-2017. Pandu Husada. 2(3): 172-179
Suriadi. (2015). Prevalensi Tinea kruris pada Pekerja Usaha Makanan Seafood Kaki Lima dan Berbagai Faktor yang Mempengaruhinya. Tesis. Jakarta: Universitas Indonesia



