Tatalaksana Anestesi pada Pasien dengan Subdural Hemorrhage
Abstract
Cedera otak traumatik merupakan penyebab terbanyak kecacatan dan kematian pada anak dan orang dewasa. Di Amerika Serikat, terjadi lebih dari 510.000 kasus cedera otak traumatik per tahun pada anak-anak usia 0-14 tahun;1 dengan 2.000–3.000 di antaranya meninggal setiap tahunnya. Tujuan dari penanganan cedera otak traumatik selain menangani cedera primernya, juga untuk mencegah terjadinya cedera sekunder. Jenis penelitian ini adalah case report . Pada kasus seorang laki-laki 18 tahun mengalami kecelakaan lalu lintas. Pasien dengan diagnosis subdural hemorrhage yang perlu tindakan craniotomy untuk evakuasi hematom. Status fisik pasien ASA II. Operasi dilakukan dengan anestesi umum, lamanya operasi berlangsung selama 2 jam. Selanjutnya hasil penelitian dianalisis menggunakan jurnal ilmiah yang diperoleh dari google schoolar, PubMed, dan NCBI. kata kunci yang digunakan adalah “Anestesi”, “Cedera kepala berat” dan “Subdural hemorrhage”. Hasil dari case report didapatkan bahwa pemilihan fentanyl, propofol, atracurium, sevoflurane dan penggunaan N2O sudah tepat pada pasien dengan cedera kepala terkait dengan pertimbangan efek masing-masing obat.
References
Ali Z, Prabhakar H. (2016). Fluid management during neurosurgical procedures. J Neuroanaesth Crit Care. 03(04):S35– 40. DOI : 10.4103/2348-0548.174733
Apriawati V, Saragih GRS, Natalia D. (2019). Hubungan antara glasgow coma scale dan lama perawatan pada pasien cedera kepala dengan perdarahan subdural. Jurnal kesehatan khatulistiwa. 5(1):655-697 https://jurnal.untan.ac.id/index.php/jfk/article/view/32952
Apriawan T. (2017). Cedera otak: Seri perdarahan intrakranial dan manajemen pembedahan. Surabaya: universitas airlangga. https://spesialis1.ibs.fk.unair.ac.id/subdural-hematoma-sdh.html
Fukuda K. (2019). Intravenous opioid anesthetics In : Miller’s anesthesia. 6th ed. Churchill Livingstone, Philadelphia. 379-424
Greenberg MS. Handbook of neurosurgery. (2010). Seventh edition. New York: thieme medical publisher.
Kaye AH. Essential Neurosurgery. (2005). 3rd edition Massachusetts: blackwell publishing LTD.
Kwon YS, Yang KH, and Lee YH. (2016). Craniotomy or Decompressive craniectomy for acute subdural hematomas: surgical selesction and clinical outcomes. Korean J Neurotrauma. 12(1)22-27. doi: 10.13004/kjnt.2016.12.1.22
Li J, Gelb AW, Flexman AM, Ji F. (2016). Definition, evaluation, and management of brain relaxation during craniotomy. Br J Anaesth. 116(6):759–69. DOI: 10.1093/bja/aew096
Lu M, He L. (2019). Textbook of Neuroanesthesia and Neurocritical Care. Vol. I, Anesthesia & Analgesia. doi: 10.1213/ANE.0000000000004430
Sunaryo BW, Suryono B, Chasnak Saleh S. (2015). Penatalaksanaan perioperatif Cedera Kepala Traumatik Berat dengan Tanda Cushing. J Neuroanestesi Indonesia. 4(1):34–42. DOI: https://doi.org/10.24244/jni.vol4i1.107
Thompson J, Moppett I, Wiles M. (2019). Smith and Aitkenhead’s Texbook of Anaesthesia.
Yusuf Hisam, Sudadi SR. (2013). Tatalaksana Peningkatan Tekanan Intra Kranial (TIK) pada Operasi Craniotomi Evakuasi Hematom yang disebabkan oleh Hematom Intracerebral. 1(1):35–42.http://anestesi.fk.ugm.ac.id/jka.ugm/download-file-275104.pdf
Khalid DS, Indriasari. (2020). Penggunaan Pelumpuh Otot Pada Pasien Kritis. Jurnal Ilmiah WIDYA Kesehatan dan Lingkungan. 1(3): 185-193. https://e-journal.jurwidyakop3.com/index.php/kes-ling/article/view/377/36



