Perbedaan Status Gizi pada Balita Sebelum dan Sesudah Pandemi Covid-19
Abstract
Stunting adalah salah satu masalah kurang gizi kronis yang terjadi dikarenakan asupan gizi yang kurang dalam jangka waktu yang cukup lama sebagai akibat dari pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi yang diperlukan. Stunting dapat terjadi dengan dipengaruhi oleh berbagai faktor dari diri bayi dan faktor luar sesuai dengan UNICEF bahwa faktor yang mempengaruhi adalah tidak adekuatnya status nutrisi dan riwayat penyakit infeksi. Namun berbagai penelitian lain banyak yang mencetuskan faktor yang mempengaruhi stunting. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi Perbedaan status gizi sebelum dan sesudah pandemik covid 19 dengan kategori BB/U, TB/U dan BB/TB. Desain penelitian ini adalah penelitian kuantitaif dengan uji t paired t test. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita di Desa Sibiru-biru, dengan jumlah sampel 40 dengan teknik pengambilan sampel total sampling. Hasil Penelitian: Tidak ada perbedaan status gizi berdasarkan BB/U, TB/U dan BB/TB sebelum dan sesudah pandemik Covid 19.
References
Batubara, Irwan & Sri Juwarni. (2018). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting di Kecamatan Sayurmatinggi Kabupaten Tapanuli Selatan. Jurnal Reproductive Health Desember 2018 Vol. 3 No.2.
Dellu, Maria Fatima Dete, Maria Mexitalia & Ali Rosidi. (2016). Maternal perception of sickness as a risk factor of stunting in children aged 2-5 years. Universa Medicina September-Desember 2016 Vol. 35-No.3. Doi: 10.18051/UnivMed.2016.v35.156-164.
Lestari et al. (2018). The Prevalance and risk factors of stunting among primary school children in North Sumatera, Indonesia. IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science 125 (2018) 012219. Doi: 10.1088/1755-1315/125/1/012219.
Lusiatun., Kismiasih Adethia., & Asnita Sinaga. (2020). Pengaruh Status Gizi Ibu Hamil dan Status Sosial Ekonomi Terhadap Panjang Badan Lahir Bayi dan Kejadian Stunting di Kabupaten Langkat Sumatera Utara. Dinamika Kesehatan Jurnal Kebidanan dan Keperawatan Vol. 11 No. 1 Juli 2020. ISSN: 2086-3454.
Nainggolan, Ramadhani., Evawany Y. Aritonang., & Etti Sudaryati. (2018). Relationship of Child Individual Factors with Stunting Incidence in Children Aged 24-36 Months at Serdang Bedagai District. Britain International of Exact Science Journal.Doi: 10.33258/bioex.v2i1.179
Pangaribuan, Ida Aryani & Herbert Wau. (2018). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Deli Tahun 2018. Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Hidup. ISSN: 2528-4002.
Priyono et al. (2010). Determinan Kejadian Stunting pada Anak Balita Usia 12-36 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Randuagung Kabupaten Lumajang. E-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol 3 (no.2) Mei 2015
Simbolon, Juana Linda., Dimpu Rismawaty Nainggolan & Elly Sianturi. (2016). Hubungan Riwayat Pemberian ASI dengan Kejadian Stunting Pada Anak Balita.
Soetjiningsih.(1995). Penilaian Pertumbuhan Fisik Anak. Dalam : IGN Gde Ranuh, penyunting. Tumbuh Kembang Anak. UKK Tumbuh Kembang IDAI : Jakarta.
Vyrena, Theresya.(2017). Hubungan Kebiasaan Konsumsi Seng dan Zat Besi dengan Kejadian Stunting pada Anak di SD Negeri No. 117504 Aek Pamingke Labuhan Batu Utara Tahun 2017. Repositori Institusi USU.Skripsi. Diambil dari http://repositori. usu.ac.id/handle/123456789/1370
Kozier, B. (2010). Fundamental of nursing. Concepts, process and practice. (8th ed), california: Addison-wesley.
Notoatmodjo, S. (2012). Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
Nursalam. (2013). Metodologi penelitian ilmu keperawatan: pendekatan praktis edisi 3. Jakarta: Salemba Medika.
Potter & perry. (2010). Fundamental keperawatan. Edisi 7. Jakarta : Salemba medika
World Health Organization (WHO). (2014). Commission on Ending Childhood Obesity. Geneva, World Health Organization, Departement of Noncommunicable disease surveillance



