Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Epilepsi Berulang
Abstract
Epilepsi merupakan kelainan neurologis kronis yang ditandai dengan berulangnya kejang. Berbagai manifestasi klinis terjadinya epilepsi dapat menjadi faktor risiko pada setiap perubahan otak. Prevalensi kejadian epilepsi mengalami fluktuasi setiap tahunnya. Peningkatan dan penurunan prevalensi tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor internal.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian epilepsi berulang di wilayah kerja Puskesmas Melintang pada Tahun 2024. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional study. Populasi dalam penelitian ini adalah sebanyak 55 responden, dengan sampel berjumlah 48 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara faktor keturunan (p-value = 0,000), riwayat kejang demam (p-value = 0,044), dan konsumsi obat epilepsi (p-value = 0,010) dengan kejadian epilepsi berulang di wilayah kerja Puskesmas Melintang Tahun 2024. Saran dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan edukasi masyarakat mengenai penyakit epilepsi serta langkah-langkah pencegahan agar tidak terjadi epilepsi berulang.
References
Anindita, N. (2021). Perilaku Koping pada Penyandang Epilepsi (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).
Arfania, M., Frianto, D., & Kurniawati, I. (2023). Literature Review Peran Obat Phenobarbital Terhadap Pasien Epilepsi Di Rumah Sakit. Innovative: Journal Of Social Science Research, 3(2), 1061-1071.
Arini, O. D. (2023). Penerapan terapi musik terhadap penurunan frekuensi kejang pada anak orang dewasa dengan epilepsi tanpa demam di ruang padmanaba timur RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta (Doctoral Dissertation, Poltekes Kemenkes Yogyakarta).
Astri, Y., Yanti, I., & Sari, A. P. (2023). Karakteristik pasien dan pola penggunaan obat anti bangkitan (OAB) pada pasien epilepsi di Rs. Muhammadiyah Palembang. Syifa'Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, 13(2), 67-73.
Deddy Ria, S. N. A., Halim, H. A., & Yahaya, A. S. (2023). Apraksia terhadap Penghidap Epilepsi melalui Analisis Neuropsikolinguistik: Apraksia, epilepsi dan neuropsikolinguistik. Journal of Communication in Scientific Inquiry (JCSI), 6(1), 1-17.
Efrilia, D. N., Anita, F., & Kurniasari, S. (2024). Hubungan Kepatuhan Konsumsi Obat Anti Epilepsi dengan Kejadian Kekambuhan Kejang pada Pasien Epilepsi di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung Tahun 2024. Sci-tech Journal, 3(2), 152-164.
Fadhilah, A. N. (2022). Kajian pustaka efektivitas dan efek samping lamotrigine pada pasien epilepsi (Doctoral dissertation, Widya Mandala Surabaya Catholic University).
Fidora, I., Putri, M., & Chaniago, M. (2021). Faktor Penyebab Terjadinya Epilepsi pada Pasien Rawat Jalan di Poli Anak. Al-Asalmiya Nursing: Jurnal Ilmu Keperawatan (Journal of Nursing Sciences), 10(1), 12-19.
Hamid, W. I. S. (2023). Profil Faktor Risiko Epilepsi Pada Anak Di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar Periode Oktober 2021-Oktober 2022= Childhood Epilepsy Risk Factor Profile at RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar in October 2021–Oktober 2022 (Doctoral dissertation, Universitas Hasanuddin).
Hasibuan, D. K., & Dimyati, Y. (2020). Kejang Demam sebagai Faktor Predisposisi Epilepsi pada orang dewasa. Cermin Dunia Kedokteran, 47(9), 668-672.
Kemenkes. (2018). Gambaran Penyakit di Indonesia.
Kemenkes RI, K. R. I. (2019). Penyakit Tidak Menular.
Khairin, K., Zeffira, L., & Malik, R. (2020). Karakteristik Penderita Epilepsi di RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2019. Health and Medical Journal, 2(2), 17-26.
Kiki, A. S. (2024). Gambaran Penggunaan Obat Antiepilepsi Pada Pasien Epilepsi Pediatri Di RSU Cut Meutia Kabupaten Aceh Utara (Doctoral dissertation, Universitas Malikussaleh).
Listiarini, S., Ningrum, W. A., Permadi, Y. W., & Muthoharoh, A. (2023, November). Pengaruh Penggunaan Obat pada pasien Epilepsi Komplikasi Depresi Di RPSBM Kota Pekalongan. In Prosiding Seminar Nasional Unimus (Vol. 6).
Makmur, A. I., Halim, W., & Muchtar, M. (2021). Faktor-faktor yang mempengaruhi stigma masyarakat terhadap penderita epilepsi di Kota Palu. Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan, 3(3), 124-131.
Maretta, D., & Ardiansyah. (2019). Hubungan Antara Kepatuhan Minum Obat Terhadap Kejadian Remisi Epilepsi Pada Anak. 1–7.
Muzayyanah, N. L., Hapsara, S., & Wibowo, T. (2021). Kejang Berulang dan Status Epileptikus pada Ensefalitis sebagai Faktor Risiko Epilepsi Pascaensefalitis. Sari Pediatri, 15(3), 150-5.
Nasir, S. N. A., Halim, H. A., & Yahaya, A. S. (2024). Apraksia terhadap Penghidap Epilepsi melalui Analisis Neuropsikolinguistik: Apraksia, epilepsi dan neuropsikolinguistik. Journal of Communication in Scientific Inquiry (JCSI), 6(1), 1-17.
Nelli, S., & Ernawati, F. (2024). Hubungan Tingkat Pengetahuan Orang Tua Tentang Kejang Demam Dengan Kejadian Kejang Demam Pada Anak Usia 1-5 Tahun Di UPTD Puskesmas Penerokan Kecamatan Bajubang Kabupaten Batang Hari Provinsi Jambi. Sedidi Health and Nursing Journal, 2(1), 1-8.
Ningrum, V. D. (2020). Evaluasi Penggunaan Valproat sebagai Terapi Epilepsi di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
Notoatmodjo. (2018). Promosi Kesehatan Dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. (2018). Metodologi Penelitian Kesehatan (Cetakan II). Jakarta: Rineka Cipta.
Nugraha, A. (2021). Karakteristik Penderita Epilepsi Di Beberapa Lokasi Di Wilayah Indonesia Periode Tahun 2013 Sampai Dengan Tahun 2020 (Doctoral dissertation, Universitas Bosowa).
Riza, A., Utami, T. M., & Halim, W. (2020). Hubungan faktor keturunan dengan kejadian epilepsi. Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan, 6(1), 387-394.



