Upaya Penurunan Tingkat Kebutaan dengan Pendekatan Program Bakti Sosial Pemeriksaan Mata dan Operasi Katarak di Daerah Terpencil

  • Dewanti Widya Astari PMN Rumah Sakit Mata Cicendo
Keywords: bakti sosial, katarak, pengabdian masyarakat, pemeriksaan mata

Abstract

Kebutaan merupakan ancaman yang sangat besar dari kondisi gangguan mata dan katarak. Di Indonesia, diperlukan operasi katarak untuk 240.000 orang setiap tahunnya. Rata-rata operasi katarak yang dilakukan baru mencapai 170.000 orang/tahun. Ini berarti, terdapat kesenjangan sekitar 70.000 penderita katarak yang belum dioperasi, dan setiap tahun akan meningkat. Kesenjangan ini terkait dengan luasnya wilayah dan kondisi geografi Indonesia, dan masih terbatasnya pemahaman sebagian besar penduduk Indonesia bahwa ada kebutaan yang dapat diobati. PMN RS Mata Cicendo sebagai rujukan nasional kesehatan mata di Indonesia dengan dukungan masyarakat, berupaya mengatasi masalah ini dengan meningkatkan akses masyarakat pada pelayanan kesehatan yang komprehensif dan bermutu, melalui penyiapan sarana dan prasarana pelayanan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi program bakti sosial pemeriksaan mata dan operasi katarak di masyarakat terpencil. Metode yang dilakukan adalah deskriptif kuantitatif. Kegiatan berupa bakti sosial meliputi pengkajian keluhan, tanda tanda vital (TTV), pemeriksaan visus atau tajam penglihatan ( E-chart, Jaeger chart), Rapid Assesment Avoidable Blindness (RAAB) , pemeriksaan refraktometri, tonometri, pemeriksaan refraksi jauh dan dekat, Edukasi CVS (Computer Vision Syndrome), konsultasi dan pendidikan kesehatan, skrining katarak serta operasi baksos katarak. Waktu pelaksanaan selama bulan Desember 2020. Total pasien 280 orang. Tahap pelaksanaan didapatkan database dari puskesmas setempat. Program bakti sosial PMN RS Mata Cicendo sudah berfokus pada penyebab utama kebutaan serta menjangkau populasi yang kurang terlayani, daerah terpencil, atau yang memiliki akses terbatas atau tidak sama sekali ke layanan perawatan kesehatan mata. Hambatan pelayanan bedah katarak di Jawa Barat adalah biaya, rasa takut, dan tidak mengetahui pemeriksaan yang mungkin dilakukan. Perlu pengelolaan biaya, peningkatan kesadaran dan kemauan masyarakat untuk melakukan pemeriksaan mata dan operasi katarak dalam menghadapi masalah kebutaan dan gangguan penglihatan di Provinsi Jawa Barat.

References

Cataract Impact Study. www.iceh.org.uk/display/ WEB/Cataract+impact+study

Gallarreta M, Furtado JM, Lansingh VC, Silva JC, Limburg H. (2014). Rapid assessment of

avoidable blindness in Uruguay : results of a nationwide survey. 36(4). h.219–24. 18.

Kuper H, Polack S, Limburg H. Rapid assessment of avoidable blindness. (2006). Community Eye Health. Dec;19(60):68–69. 3

Pascolini D, Mariotti SP. (2012). Global estimates of visual impairment: 2010. Br J Ophthalmol. ;96(5):614–618. 2

Ratnaningsih N, Rini M, Halim A. (2016). Barriers for Cataract Surgical Services in West Java Province of Indonesia. Ophthalmol Ina. 42(1). h.71–6. 19.

Ridwan K, Ali R, Wersun BC. (2015). Budaya Kerja Orang India dan Kanada di Lingkungan Bisnis. Universitas Negeri Jakarta. 2015. h.25. 21. Lindfield R, Griffith

Robert, Finger, David G. Kupitz. (2012). The Impact of Successful Cataract Surgery on Quality of Life, Household Income and Social Status in South India. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0044268

Sarah Polack. (2014). Measuring the impact of cataract services in the community. Community Eye Health Journal.

Verma R, Khanna P, Prinja S, Rajput M, Arora V. (2012). The National Programme for Control of Blindness in India. AMJ. 4(1). h.1- 3. 20.

Published
2021-10-08
How to Cite
Astari, D. (2021). Upaya Penurunan Tingkat Kebutaan dengan Pendekatan Program Bakti Sosial Pemeriksaan Mata dan Operasi Katarak di Daerah Terpencil. Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat: Peduli Masyarakat, 1(1), 17-22. Retrieved from http://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/PSNPKM/article/view/603