Terapi pada Demam Tifoid Tanpa Komplikasi
Abstract
Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi pada sistemik atau demam enterik yang diakibatkan oleh bakteri Salmonella enterica serovar typhi (S. typhi) . Pada perjalanan awal penyakit ini, biasanya tidak pasien tidak merasakan gejala dan keluhan, setelah ituakan timbul gejala yang khas seperti demam di sore hari dan serangkaian gejala infeksi umum yang akan dirasakan pasien pada saluran cerna. Tujuan dilakukannya literature review ini adalah untuk membahas tatalaksana yang tepat pada kasus demam tifoid tanpa komplikasi. Sumber referensi yang digunakan untuk menyusun tulisan ini meliputi 20 artikel yang didapat dengan melakukan literature searching di Sumber NCBI dan google schoolar yang dipublikasikan dalam rentang tahun 2000-2020. Literature sarching tersebut dilakukan dengan menggunakan kata kunci demam tifoid, tanpa komplikasi, terapi dan juga filter berupa rentang publikasi tahun 2000-2020. Hasil yang ditemukan dari literature searching ini adalah 5,420 artikel yang kemudian dipilih 20 artikel berdasarkan informasi yang dibutuhkan. Referensi yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis dengan metode systematic literature review yang mencakup kegiatan mengumpulkan, mengevaluasi, dan mengembangkan penelitian dengan topik tertentu secara sistematis. Hasil literature review ini berupa Terapi pada demam tifoid tanpa komplikasi adalah berupa pemberian antibiotik tiamfenikol, kloramfenikol, atau ampisilin/amoksisilin, Sefalosporin generasi III, fluorokuinolon, azitromisin serta terapi suportif seperti pemeberian cairan dan juga bed rest.
References
Bhan, M. K., Bahl, R., Bhatnagar, S. (2005) Typhoid fever and paratyphoid fever. Lancet, 366: 749-762. https://doi.org/10.1016/S01406736(05)67181-4
Chanh, N. Q., Everest, P., Khoa, T. T., House, D., Murch, S., Parry, C., … Wain, J. (2004). A clinical, microbiological, and pathological study of intestinal perforation associated with typhoid fever. Clinical Infectious Diseases, 39(1), 61–67. https://doi.org/10.1086/421555
Crump, J. A., Sjölund-Karlsson, M., Gordon, M. A., & Parry, C. M. (2015). Epidemiology, clinical presentation, laboratory diagnosis, antimicrobial resistance, and antimicrobial management of invasive Salmonella infections. Clinical Microbiology Reviews, 28(4), 901–937. https://doi.org/10.1128/CMR.00002-15
Dian. 2007. Studi Biologi Molekuler Resistensi Salmonella Typhi Terhadap Kloramfenikol. ADLN Digital Colectio
Effa, E. E., Bukirwa, H. (2008). Azitromisin for treating uncomplicated typhoid and paratyphoid fever (enteric fever). Cochrane Library, 8(4), CD006083. https://doi.org/10.1002/14651858.CD006083.pub3
Levani, Y., & Prastya, A. D. (2020). Demam Tifoid: Manifestasi Klinis, Pilihan Terapi Dan Pandangan Dalam Islam. Al-Iqra Medical Journal : Jurnal Berkala Ilmiah Kedokteran, 3(1), 10–16. https://doi.org/10.26618/aimj.v3i1.4038
Linson, M., Bresnan, M., Eraklis, A., & Shapiro, F. (1981). Acute gastric volvulus following harrington rod instrumentation in a patient with werdnig-hoffman disease. Spine, 6(5), 522–523. https://doi.org/10.1097/00007632-198109000-00015
Mehta, K. K. (2008). Changing trends in enteric fever. Medicine, 18, 201–204.
Mirza, S. H., Beeching, N. J., & Hart, C. A. (1996). Multi-drug resistant typhoid: A global problem. Journal of Medical Microbiology, 44(5), 317–319. https://doi.org/10.1099/00222615-44-5-317
Nelwan, R., Chen Lie, K., Hadisaputro, S., Suwandoyo, E., , S., , N., … Paramita, D. (2013). A Single Blind Comparative Randomized Non-Inferior Multicenter Study for Efficacy and Safety of Levofloxacin versus Ciprofloxacin in the Treatment of Uncomplicated Typhoid Fever. Advances in Microbiology, 03(01), 122–127. https://doi.org/10.4236/aim.2013.31019
Nelwan, R., Chen Lie, K., Nafrialdi, Paramita D. (2006). Open study on effi cacy and safety of levofl oxacin in treatment of uncomplicated typhoid fever. Southeast Asian J Trop Med Public Health, 37(1), 126-130.
Nurlaila, S., Trisnawati, E., & Selviana. (2015). Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Demam Tifoid pada Pasien yang Dirawat di RSU.DR.Soedarso Pontianak Kalimantan Barat. Jurnal Mahasiswa Dan Peneliti Kesehatan, 2(1), 54–66. http://dx.doi.org/10.29406/jjum.v2i1.154
Pohan, H. T. (2011). Management of resistant Salmonella infection. Paper presented at: 12th Jakarta Antimicrobial Update; April 16-17; Jakarta, Indonesia
Rahayu. (2000). Faktor Risiko Kejadian Demam Tifoid Penderita yang Dirawat Di RSUD Dr. Soetomo. Tesis. Surabaya: Universitas Airlangga.
Raini, M. (2016). Fluoroquinolones Antibiotics: Benefit and Side Effects. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Biomedis Dan Teknologi Dasar Kesehatan, Badan Litbangkes, Kemenkes RI, 26(3), 163–174.
Rampengan, N. H. (2016). Antibiotik Terapi Demam Tifoid Tanpa Komplikasi pada Anak. Sari Pediatri, 14(5), 271. https://doi.org/10.14238/sp14.5.2013.271-6
Rismarini, R., Anwar, Z., & Merdjani, A. (2016). Perbandingan Efektifitas Klinis antara Kloramfenikol dan Tiamfenikol dalam Pengobatan Demam Tifoid pada Anak. Sari Pediatri, 3(2), 83.https://doi.org/10.14238/sp3.2.2001.83-7
Sharma, P. C., Jain, A., & Jain, S. (2009). Fluoroquinolone antibacterials: A review on chemistry, microbiology and therapeutic prospects. Acta Poloniae Pharmaceutica - Drug Research, 66(6), 587–604.
WHO, 2003, Diagnosis of Typhoid Fever. Dalam: Background Document: The Diagnosis Treatment and Prevention of Typhoid Fever. Word Health Organization.
Widoyono. (2011). Penyakit Tropis. Erlangga. Jakarta.



