Penatalaksanaan Holistik Pasien Vertigo dan Dispepsia Fungsional pada Ny. A Usia 52 Tahun melalui Pendekatan Kedokteran Keluarga

  • Faris Mu’taz Husamuddin Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
  • Dedi Daryanto Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
Keywords: dispepsia fungsional, dokter keluarga, tatalaksana holistik, vertigo

Abstract

Vertigo adalah suatu kumpulan gejala yang terjadi akibat gangguan pada sistem keseimbangan. Dispepsia adalah kumpulan gejala yang mengarah pada penyakit/gangguan saluran pencernaan atas. Tujuan: Penerapan pelayanan dokter keluarga berbasis evidence based medicine pada pasien dengan mengidentifikasi faktor risiko, masalah klinis, serta penatalaksanaan pasien berdasarkan kerangka penyelesaian masalah pasien dengan pendekatan patient centered dan family approach. Metode: Data primer diperoleh melalui autoanamnesis, pemeriksaan fisik dan kunjungan ke rumah. Data sekunder didapat dari rekam medis pasien. Penilaian berdasarkan diagnosis holistik dari awal proses dan akhir studi secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil: Pasien Ny. A, berusia 52 tahun datang ke Puskesmas dengan keluhan pusing berputar, mual, muntah, dan keringat dingin. Pasien juga merasakan nyeri ulu hati. Pada pemeriksaan fisik, terdapat nyeri tekan regio epigastrium, serta hasil tes neurologi Dix Hallpike, nistagmus, Romberg, tendem gait, dan past pointing test positif. Selanjutnya, penatalaksanaan secara holistik terhadap pasien dan keluarga melalui media intervensi poster berupa informasi mengenai penyakit yang diderita pasien, latihan keseimbangan yang dapat dilakukan, pola makan teratur, dan menghindari makanan yang dapat mencetuskan keluhan. Pada saat evaluasi, keluhan sudah tidak dirasakan oleh pasien. Kesimpulan: Penatalaksanaan secara holistik dapat meningkatkan pengetahuan serta merubah sikap dan perilaku pasien.

References

Appendix A: Rome III diagnostic criteria for functional gastrointestinal disorders. In: Drossman DA, editor. (2006). Rome III: The functional gastrointestinal disorders. Raleigh, NC: Rome Foundation. 885-97.

Bahrudin, M. (2013). Neurologi Klinis. Malang: UMM Press.

Bashiruddin J. (2008). Vertigo posisi paroksismal jinak. Dalam: Arsyad E, Iskandar N, editor. Telinga, hidung tenggorok kepala dan leher. Edisi Ke-6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 104-9.

Bisset F, Aspiroz F. (2013). Dietary and lifestyle factors in functional dyspepsia. Nat rev gastroenterol hepatol. 150–7. Tersedia di http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23296252.

Depkes RI. (2015). Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Dinas Kesehatan. (2020). Profil Kesehatan Provinsi Lampung. Bandar Lampung. Pemerintah Provinsi Lampung.

Edward Y, dan Roza Y. (2014). Diagnosis dan Tatalaksana Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) Horizontal Berdasarkan Head Roll Test. Jurnal Kesehatan Andalas. 3(1): 77-81

Ikatan Dokter Indonesia. (2017). Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Jakarta: Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia. J Intern Med. 49(3): 279-87.

Jaber N, Oudah M, Kowatli A, Jibril J, Baig I, Mathew E, et al. (2016). Dietary and lifestyle factors associated with dyspepsia among pre-clinical medical students in Ajman, United Arab Emirates. Central Asian Journal of Global Health. 5(1): 1-16.

Kemenkes RI. (2018). Laporan Nasional Riskesdas 2018. Jakarta: Kemenkes RI

Lee SW, Lien HC, Lee TY, Yang SS, Yeh HZ, Chang CS. (2014). Etiologies of dyspepsia among a Chinese population: One hospital-based study. Open Journal of Gastroenterology. 4:249-54.

Miwa H, Ghoshal UC, Gonlachanvit S, et al. Asian consensus report on functional dyspepsia. J Neurogastroenterol Motil.

National Institute for Clinical Exellence (NICE). (2004). Quick Reference Guide Dyspepsia Management Dyspepsia in Adults in Primary Care. Clinical Guideline 17. London: NICE.

Purnamasari L. (2017). Faktor Risiko, Klasifikasi, dan Terapi Sindrom Dispepsia. CDK-259. 44(12):870-3.

Purnamasari PP. (2013). Diagnosis dan Tatalaksana Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV). Balai Peneribit Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. 2(6): 18

Rendra, A.K., & Pinzon, R.T. (2018). Evaluasi Drug Related Problems pada Pasien dengan Diagnosis Vertigo Perifer di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Indonesian Journal of Clinical Pharmacy.

Roceanu, A. M., Albu, S., Gabriela, M., Cozma, S., & Mărceanu, L., (2014). Effects and tolerability of betahistine in patients with vestibular vertigo: results from the Romanian contingent of the OSVaLD study. International Journal of General Medicine. 7: 531–538.

Schellack N, Masuku B. (2015). Gastric pain. In South African Family Practice. https://doi.org/10.4102/safp.v57i5.4324

Schubert, M.L., Peura, D.A. (2008). Control of Gastric Acid Secretion in Health and Disease. Basic and Clinical Gastroenterology. 134(7): 1842-1860.

Setiawati M, Susianti. (2016). Diagnosis dan Tatalaksana Vertigo. Bandar Lampung. Majority Volume 5 Nomor 4.

Syam AF, Simadibrata M, Makmun D, Abdullah M, Fauzi A, Renaldi K. (2017). National consensus on management of dyspepsia and helicobacter pylori infection. Acta Med Indones J Intern Med. 49(3): 279-87.

Talley NJ, Ford AC. (2015). Functional dyspepsia. New England Journal of Medicine. https://doi.org/10.1056/NEJMra1501505.

Triyanti, N., Nataliswati, T., & Supono, S. (2018). Pengaruh Pemberian Terapi Fisik Brandt Daroff Terhadap Vertigo Di Ruang UGD RSUD Dr. R Soedarsono Pasuruan. Journal Of Applied Nursing (Jurnal Keperawatan Terapan), 4(1), 59-64.

Published
2024-06-07
How to Cite
Husamuddin, F. M., & Daryanto, D. (2024). Penatalaksanaan Holistik Pasien Vertigo dan Dispepsia Fungsional pada Ny. A Usia 52 Tahun melalui Pendekatan Kedokteran Keluarga. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, 6(6), 2493-2506. https://doi.org/10.37287/jppp.v6i6.3587